Langsung ke konten utama

Ketika Bermain Kacamata

Ajang keangkuhan. Masa yang masih terlalu usang. Kenapa semua ingin masuk dalam kuasa dua mata. Selalu merasa mampu dan bisa. Terkadang dalam diam dan bisa. Dalam gerak dan bisa. Dalam gerak tanpa asa, dan tak bisa. Ketika diakhiri dengan ketidak pedulian. Yang ada hanya arena keangkuhan. Onggokan daging tanpa makna. Sampah duka. Ketika simpulan dari satu pemikiran terkadang bisa membunuh tanpa arah. Ketika dua pemikiran mampu mengarahkan ke titik lebih terang dan tiga pemikiran mampu memecah keadaan. Tiga, sepertinya jawaban terbaik. Kesimpulan yang sudah bisa mengajak kita turun dan rasa mulai bermain di sana.
Terkadang aku masih bingung. Masih ada yang mampu menegakkan keadaan dengan kekuatan yang ia yakini. Kesalahan, itu hal biasa bagiku. Karena itulah yang menunjukkan kemanusiaannya. Tetapi apakah keadaan sekarang masih bisa bermain dengan keadaan itu.
Ikan yang berenang dari muara menuju mata air. Adalah salah seorang saat ini yang aku ketahui mampu membahasakan apa yang sering kita rasakan ataupun tentang keadaan. Ketika banyak yang mengidolakan karena keramahan pemikirannya dalam tulisan. Terkadang ada beberapa yang sama dengan individu lain. Saat yang sama dipahami lebih dalam, dan yang berbeda masih direnungkan, didiskusikan dan disimpulkan mungkin akan ada hal yang indah. Tetapi ketika hal itu hanya diterima mentah-mentah dan dimasukkan secara paksa. Itu berarti kita memperkosa diri kita. Dan itu berbahaya.
Banyak ruang yang perlu dipahami. Disaringnya hal-hal baru dengan saringan kita, kemudian ditambah dengan saringan lain, bisa teman atau sumber lain yang bisa berujung pada bijaksana. Aku takut. Dan itu manusia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH Pada hakitanya sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fiksi, misalnya cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya, pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia. Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Meskipun demikian, karya sastra yang diciptakan pengarang kadang-kadang mengandung subjektivitas yang tinggi. Imajinasi yang tertuang dalam karya sastra, meski dibalut dalam semangat kreativitas, tidak luput dari selera dan kecenderungan subjektif, aspirasi, dan opini personal ketika merespons objek di luar dirinya, serta muatan-muatan khas individualistik yang melekat pada diri penulisnya sehingga ekspresi karya bekerja atas dasa...

Edelwis Bumi pertiwi

Kau abadi Kau kan selalu ada Ragamu memang hanyut karena waktu Semangatmulah yang selalu menonjok kami Kisahmulah yang selalu membangunkan kami dari lamunan Cita-citamu itu luhur Buah pemikiranmu itu selalu ada menjadi pondasi kami Inovasi kami ada karena andalah yang menanam dan mengakarkan Kami hanya mampu bersyukur dan kembali mengisi Mengisi pundi-pundi yang telah kalian ciptakan dari tanah air ini Mengisi dengan kreatifitas, produktifitas dan kejujuran Kami bangga dengan kalian Kami kagum dengan kalian Selalu ada dan tak akan kami lebur                                                                      ...