Langsung ke konten utama

Kotor = Bersih Dalam Lingkaran

Di suatu pagi yang cerah, di teras rumah ada dua sahabat lama yang baru bertemu. Setelah dua tahun mereka terpisah jarak karena tuntutan studi.
Edan: Gimana Kok? (kemudian menyeruput kopinya dengan tenang)
Pekok: apanya?
Edan: Permainanmu, sudah bersihkan?
Pekok: Halah, tambah parah!!
Edan: Parah gimana?
Pekok: Kotor semua Dan! (jawaban yang ketus dengan sepulan asap rokok)
Edan: Kok, ini kan hal kotor, kenapa kamu bermainnya juga masih kotor?
Pekok: Barusan kemarin ini, permainan ini berakhir kotor lagi, dan sudah dua kali ini aku gagal Dan. (Nada bicaranya melemah, keaadan pasrah)
Edan: Paling tidak Hal kotor ini dapat kamu tutup dengan permainan yang bersih kok. ibaratnya gini, Kotor + Kotor= 2 kotor, tapi kalau Kotor + Bersih = 0
Pekok: hah?! jadi kamu pikir "nol" itu titik pensucian? (Pekok semakin geram dengan teorinya edan)
Edan: Dalam hal kotor ini, mungkin seperti itulah yang terjadi.
Pekok: Konsep logikamu tak jelas, kayaknya aku mau keluar saja dari permainan ini. (nadanya melemah pasrah)
Edan: Halah sekarang kamu yang menjilat prinsipmu sendiri.
Pekok: Prinsip yang mana?
Edan: Kamu sih terlalu banyak prinsip, yang "Jangan pernah main-main kecuali dengan mainan!"
Pekok: oh, itu biarlah, dari pada aku semakin tertekan.Edan: Teman, Terkadang memang memainkan permainan kotor ini bukan hanya naluri, tapi juga panggilan hati.
Pekok: Indah juga khotbahmu pagi ini.
Edan: hahaha, sini memaaang, ya kamu taulah aku seperti apa?
Pekok: iya-iya
Edan: Yaudah gak usah maksain diri, sekarang keluar saja, dan cari tuh yang lama atau baru. oh iya, jangan lupa, kalau mengalami hal ini lain waktu, ingat jangan yang ketiga kalinya.
Pekok: iya Dan, makasih ya. Kamu memang sahabat lamaku yang tak pernah luntur.
Edan: Kamu pikr aku celana naptolan yang di cuci luntur
Pekok: hahaha, kiasan teman...
Edan:... Iya-iya, dah minum dulu kopinya. (obrolan ditutup dengan sruputan kopi arabika yang sudah dari tadi mengepulkan asap kesunyian)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS FEMINISME NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG MASALAH Pada hakitanya sebuah karya sastra adalah replika kehidupan nyata. Walaupun berbentuk fiksi, misalnya cerpen, novel, dan drama, persoalan yang disodorkan oleh pengarang tak terlepas dari pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Hanya saja dalam penyampaiannya, pengarang sering mengemasnya dengan gaya yang berbeda-beda dan syarat pesan moral bagi kehidupan manusia. Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Meskipun demikian, karya sastra yang diciptakan pengarang kadang-kadang mengandung subjektivitas yang tinggi. Imajinasi yang tertuang dalam karya sastra, meski dibalut dalam semangat kreativitas, tidak luput dari selera dan kecenderungan subjektif, aspirasi, dan opini personal ketika merespons objek di luar dirinya, serta muatan-muatan khas individualistik yang melekat pada diri penulisnya sehingga ekspresi karya bekerja atas dasa...

Edelwis Bumi pertiwi

Kau abadi Kau kan selalu ada Ragamu memang hanyut karena waktu Semangatmulah yang selalu menonjok kami Kisahmulah yang selalu membangunkan kami dari lamunan Cita-citamu itu luhur Buah pemikiranmu itu selalu ada menjadi pondasi kami Inovasi kami ada karena andalah yang menanam dan mengakarkan Kami hanya mampu bersyukur dan kembali mengisi Mengisi pundi-pundi yang telah kalian ciptakan dari tanah air ini Mengisi dengan kreatifitas, produktifitas dan kejujuran Kami bangga dengan kalian Kami kagum dengan kalian Selalu ada dan tak akan kami lebur                                                                      ...