Langsung ke konten utama

Postingan

Pagi Selalu Alami

Aku lahir di desa Katanya dewasa di kota Menjelajah setengah pematang kehidupan Dalam bayangan dua pohon Bersisi satu hati Karena aku kecil di desa Aku tahu aroma lumpur dan rumput sawah Memahami tanda hujan akan lama Aku dewasa di kota Mengerti banyak aroma Kota lebih banyak duka   16 November 2012  

Edelwis Bumi pertiwi

Kau abadi Kau kan selalu ada Ragamu memang hanyut karena waktu Semangatmulah yang selalu menonjok kami Kisahmulah yang selalu membangunkan kami dari lamunan Cita-citamu itu luhur Buah pemikiranmu itu selalu ada menjadi pondasi kami Inovasi kami ada karena andalah yang menanam dan mengakarkan Kami hanya mampu bersyukur dan kembali mengisi Mengisi pundi-pundi yang telah kalian ciptakan dari tanah air ini Mengisi dengan kreatifitas, produktifitas dan kejujuran Kami bangga dengan kalian Kami kagum dengan kalian Selalu ada dan tak akan kami lebur                                                                      ...

Sepasang Sepatu

Talinya udah kusut dengan simpul-simpul yang sulit terurai Kanan, adakala melawan kala hilang nafsu Kiri, selalu menciptakan simpul-simpul mematikan "RUWET" ya itulah yang terjadi dalam kenyataannya Penonton yang baik dan bernyanyi yang tak mungkin didengar dari pesawat Menikmati hari, ya itulah yang mereka lakukan karena sudah mati karena simpul mati Surakarta, 28-01-2012

Setelah Jalan Ini

Sendu sedan dari larik elegi Mencuat serasa kelam Terkadang ini terasa sesat Sesaat terdengar halilintar menghentak Pemaksaan pada benar dan salah Pernah bertanya benar atau salah? Gerimis menambahkan kelam Senyum, mungkinkah? Gerak-gerik air melaras nada Ini sore bukan malam Lirih terdengar, dan ini lelap Belum waktukan Ya lirih terdengar dari kebun Surakarta, 02 Mei 2012

Awas Ada Galian, Gila!

            Terlihat gadis berbaju hitam dan bersyal biru duduk dengan santai. Di pojok kafe yang sepi. Bermain laptop ditemani kopi dan racikan irama hampa. Sepertinya kursi itu kursi favoritnya, dan tempat ini adalah tempat dia sering menghabiskan malam tanpa makna. Hal itu terlihat jelas sekali, dari akrabnya para pelayan kafe ini dengannya. Aku memang jarang kemari, tetapi tiap aku datang kemari pasti ada gadis itu sendiri. Seorang gadis manis, cantik tetapi sangat cuek denganku dan isyarat tubuhnya seperti tak pernah mengharapkanku. Aku tahu.             Jelas sekali dia tak pernah mengaharapkan kedatanganku. Dia adalah si nona. Ya, itu adalah panggilan sayangku untuknya. Aku belum pernah tahu nama aslinya. Begitupun sebaliknya. Kami pertama kali bertemu di tempat ini. Sebuah kafe dimana ada menu kopi kental bercampur krim susu, bertabur biskuit coklat, dan gulanya ...

Leter H

Hari ini aku kuliah seperti biasanya, hari senin ada jadwal yang acak dan mulai jam kuliah jam setengah delapan pagi. Kuliah pagi di hari senin, ah malas untuk hari ini. Apa lagi tadi malam sehabis latian olah vokal kemudian kongko bersama teman-teman sampai malam. Kemudian kembali ke kontrakan teman, dilanjutkan diskusi kecil dengan teman sejawat. Kemudian habiskan malam dan menggerus sedikit pagi sampai jam empat pagi dengan nonton film biru. Ah, kuliah pagi, pasti malas. Eh, nyatanya sampai kampus kosong. Sampah! Akhirnya hanya nongkrong di parkiran. Dan ngobrol dengan penjaga parkir serta bermain humor kasar atau saru, hahahaha. Bahagia. Sambil bercanda, aku mencabuti uban pak parkir yang mungkin masih menolak tua, hahaha. Aneh. Masih merajuk dengan keputusan dosen yang sepihak entah atas nama apapun dia tak datang. Akhirnya aku ke kontarakan temanku, berharap bisa membebaskan rasa kantuk. Eh, dalam perjalanan kurang lebih lima belas menit otakku mengajak berpikir. Hal ya...